Letusan tanpa henti selama 25 jam sudah berakhir dan aktivitas gunung menurun. Meski begitu statusnya tetap Level III (Siaga) dengan radius bahaya 3 km, dan letusan kecil masih muncul sesekali.
Krakatau berada di tengah laut, di antara Sumatra dan Jawa. Sekitar 200–300 km ke arah barat daya, di dasar Samudra Hindia, dua lempeng bumi saling mendorong: Lempeng Indo-Australia menyusup ke bawah Lempeng Eurasia. Tempat keduanya bergesekan disebut megathrust, dan di situlah tenaga gempa besar menumpuk. Gulir ke bawah untuk melihat lapisannya satu per satu, atau pilih sendiri lewat tombol di bawah peta.
Krakatau berada di tengah laut antara Sumatra dan Jawa.
Krakatau sekitar 150 km di barat Jakarta, zona megathrust sekitar 300 km.
Sekitar 200–300 km ke arah barat daya, di dasar Samudra Hindia, dua lempeng bumi saling mendorong: Lempeng Indo-Australia menyusup ke bawah Lempeng Eurasia.
Tempat keduanya bergesekan disebut megathrust — di situlah tenaga gempa besar menumpuk.
Abu di ketinggian 20.000 kaki terbawa angin ke arah Jakarta. Itulah yang menutup Soekarno-Hatta pada dini hari 6 September.
Lapisan yang lebih tinggi, sekitar 50.000 kaki, bergerak ke barat daya menuju Lampung dan Bengkulu.
Selain itu ada patahan Baribis dan Cimandiri yang lebih dekat.
Gempa Cianjur 1 September lalu adalah pengingatnya.
Bayangkan bumi dibelah dari Samudra Hindia sampai Selat Sunda. Lempeng dasar laut menyusup ke bawah, dan makin dalam makin panas. Di kedalaman sekitar 100 km batuannya mulai meleleh menjadi magma, lalu naik dan keluar lewat Krakatau. Di bagian yang lebih dangkal, dua lempeng itu saling menempel dan “macet” — di situlah tenaga gempa menumpuk sedikit demi sedikit.
BMKG memastikan tidak ada gempa besar yang memicu letusan 4–6 September. Penyebabnya adalah tekanan magma dari dalam gunung itu sendiri. Data USGS mendukung hal ini: gempa terbesar di kawasan ini sepanjang 2026 hanya M5,8, dan tidak ada lonjakan aktivitas gempa sebelum letusan.
Tenaga letusan terlalu kecil dan terlalu dangkal untuk menggerakkan patahan sepanjang ratusan kilometer pada kedalaman 5–40 km. Kalau memang ada hubungan, arahnya hanya satu: gempa bisa memengaruhi gunung, bukan sebaliknya.
Bisa, tapi hanya kalau gunungnya sudah penuh magma dan siap meletus — seperti kondisi Krakatau sekarang. Gunung Fuji, misalnya, meletus pada 1707 setelah gempa besar. Jadi tidak otomatis, tetapi Krakatau saat ini memang termasuk rentan.
Bisa, tapi bukan lewat gempa. Tsunami muncul kalau sebagian tubuh gunung longsor ke laut, seperti pada 22 Desember 2018 yang menewaskan lebih dari 400 orang. Kabar baiknya, menurut Badan Geologi tubuh gunung yang tumbuh sejak 2018 masih kecil, jadi belum berpotensi longsor besar.
Geser angka kekuatan gempa, lalu tekan “Jalankan gelombang”. Tsunami bergerak cepat di laut dalam, sekitar 500 km/jam, tetapi melambat jauh di laut dangkal seperti Laut Jawa, sekitar 70 km/jam. Itu sebabnya pantai selatan Banten hanya punya waktu belasan menit, sedangkan Jakarta punya sekitar dua jam.
Perkiraan tinggi tsunami megathrust bukan satu angka pasti. Beberapa tim peneliti memakai metode yang berbeda dan hasilnya pun jauh berbeda. Hal ini penting diketahui supaya kita tidak salah menyimpulkan.
Tim ini memakai data GPS untuk memetakan bagian megathrust yang terkunci di selatan Jawa. Mereka menemukan zona terkunci sampai kedalaman 20–30 km, lalu menghitung skenario terburuk: segmen barat dan timur patah bersamaan.
Tim ini memakai distribusi pergeseran patahan yang berbeda dan menghasilkan angka sekitar setengah dari studi sebelumnya. Perbedaannya bukan pada besar gempanya, melainkan pada cara memodelkan pergeseran itu.
Tim ini merekonstruksi tsunami 22 Desember 2018. Kesimpulan pentingnya: longsoran terjadi sebagai satu gerakan cepat, bukan runtuh bertahap. Tidak ada tanda awal yang bisa dijadikan peringatan, dan waktu tempuh gelombangnya sangat pendek.
Tim ini membandingkan seluruh busur Sunda. Segmen Jawa punya tekanan tinggi, sekitar 100 MPa, tetapi justru melepaskan energi gempa lebih sedikit. Sebaliknya segmen Sumatra–Andaman bertekanan lebih rendah namun mencatat gempa terbesar, termasuk Mw 9,3 pada 2004 dengan patahan sepanjang ~1.300 km.
Diambil dari katalog USGS untuk wilayah Selat Sunda, Banten, dan Lampung, dengan magnitudo 4,8 ke atas.
| Tanggal | M | Dalam | Lokasi |
|---|---|---|---|
| 21 Agu | 5,8 | 9 km | 187 km barat daya Labuan |
| 24 Jul | 4,9 | 53 km | 144 km barat daya Kotabumi |
| 19 Jul | 4,9 | 38 km | 70 km selatan Pelabuhanratu |
| 18 Jul | 4,9 | 26 km | 198 km barat daya Bandar Lampung |
| 7 Jul | 5,3 | 33 km | 87 km barat daya Labuan |
| 27 Jun | 5,0 | 62 km | 86 km barat daya Bandar Lampung |
| 7 Apr | 4,9 | 49 km | 181 km barat daya Bandar Lampung |
| 21 Mar | 5,1 | 10 km | 158 km barat daya Labuan |
Sepanjang 2026 tidak ada satu pun gempa berkekuatan M6 atau lebih di kawasan Selat Sunda. Yang terbesar hanya M5,8 pada 21 Agustus, dan itu tergolong aktivitas normal untuk zona pertemuan lempeng yang aktif.
Artinya tidak ada gempa tidak biasa yang mendahului letusan September. Letusan ini murni berasal dari pergerakan magma gunungnya sendiri.
Tapi itu juga berarti sebaliknya: tenaga megathrust masih tersimpan, tidak ikut terlepas lewat gempa-gempa kecil ini.
Jakarta cukup terlindung dari tsunami karena letaknya di dalam teluk dan Laut Jawa yang dangkal. Tapi kota ini rentan pada dua hal lain: abu yang melumpuhkan bandara, dan guncangan gempa yang terasa lebih kuat karena tanahnya lunak.
Abu terbawa angin ke arah Jakarta. Yang paling terganggu adalah penerbangan, karena abu merusak mesin pesawat, lalu kualitas udara dan peralatan luar ruang seperti AC dan panel surya.
Gempa megathrust M8,7 diperkirakan terasa kuat di Jakarta, cukup untuk merusak bangunan yang tidak tahan gempa. Selain itu ada patahan Baribis dan Cimandiri yang jaraknya lebih dekat. Gempa Cianjur 1 September lalu jadi pengingatnya.
Dari gempa megathrust: ombak 0,5–1,8 m di pantai utara Jakarta, tiba 2–2,5 jam setelah gempa. Dari longsoran Krakatau: kecil di Jakarta, tapi 2–5 m di Anyer, Carita, dan Lampung Selatan dalam 30 menit.
Letusan raksasa menghancurkan dua dari tiga kerucut pulau ini. Menurut catatan Smithsonian lebih dari 36.000 orang meninggal, sebagian besar karena tsunami yang menyapu pesisir Sumatra dan Jawa.
Gunung baru muncul dari dasar kaldera bekas letusan 1883, lalu tumbuh beberapa meter setiap tahun. Sejak itu ia sering meletus.
Sebagian besar tubuh gunung longsor ke laut tanpa didahului gempa. Volume longsorannya 0,27 km³. Tsunami menghantam Anyer, Carita, dan Lampung Selatan dalam 30 menit dengan ketinggian terukur sampai 13 m, dan lebih dari 400 orang meninggal.
Letusan sejak 2 Juli menumpuk material baru di tubuh gunung. Kolom abu 15 km pada 4–5 September adalah yang tertinggi sejak 2018. Tubuh gunungnya masih relatif kecil, jadi risiko longsor besar dinilai rendah.
Dirangkum dari media Indonesia serta rilis resmi BMKG dan Badan Geologi/PVMBG (MAGMA Indonesia). Anak Krakatau bukan satu-satunya gunung yang sedang dipantau ketat: ada empat gunung lain yang juga berstatus Siaga saat ini.
Abu terbagi menjadi dua lapisan. Lapisan sampai 4,57 km bergerak ke barat laut menuju Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung. Lapisan sampai 15,24 km bergerak ke barat menuju Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu — jalur yang penting untuk penerbangan.
Antara pukul 00.00–06.00 WIB tercatat 44 gempa hybrid, 34 low frequency, 17 harmonik, 4 hembusan, dan 1 tremor menerus. Puncak gunung tertutup kabut dan ombak laut tenang.
Rangkaian letusan 4 Sep 23.07 WIB – 6 Sep 00.04 WIB sudah berakhir. Energi letusannya menurun, tetapi Level III dan radius bahaya 3 km tidak diubah.
BMKG memutakhirkan peta sebaran abu tiap beberapa jam dan mengimbau warga memakai masker di wilayah terdampak.
Alat pengukur muka laut di Selat Sunda tidak mencatat anomali. Peluang tsunami dinilai di bawah 40 persen.
Warga pesisir Serang mengeluhkan mata perih dan sesak di dada. Hujan abu juga dilaporkan di Bandar Lampung dan Tanggamus.
Letusan pukul 20.23 WIB berlangsung sekitar 44 detik dengan amplitudo maksimum 58 mm. Tinggi kolom abunya tidak teramati karena tertutup kabut.
Ada lima gunung api di Indonesia yang berstatus Siaga per awal September 2026. Selebihnya berstatus Waspada (Level II) atau Normal.
| Gunung | Status | Radius bahaya |
|---|---|---|
| Anak KrakatauSelat Sunda · Lampung–Banten | III · SIAGA | 3 km |
| SemeruLumajang–Malang, Jawa Timur | III · SIAGA | 5 km + 13 km Besuk Kobokan |
| MerapiJawa Tengah – DI Yogyakarta | III · SIAGA | 3–7 km menurut arah |
| Lewotobi Laki-lakiFlores Timur, NTT | III · SIAGA | 5 km |
| SinabungKaro, Sumatra Utara | III · SIAGA | 4–5 km menurut arah |
Sumber: rangkuman PVMBG lewat Katadata (1 Sep 2026) dan RakyatNTT (7 Sep 2026). Status resmi yang terbaru selalu bisa dicek di MAGMA Indonesia.
| Gunung | Waktu | Kolom abu |
|---|---|---|
| Ili LewotolokLembata, NTT | 06.11 WITA | ±400 m di atas puncak, kelabu tebal ke barat |
| IbuHalmahera, Maluku Utara | 04.55 WIT | ±400 m di atas puncak, kelabu ke timur laut |
| Anak KrakatauSelat Sunda | 03.53 & 07.10 WIB | tidak teramati, tertutup kabut |
Sumber: Liputan6 — daftar gunung api Indonesia yang erupsi 6 September 2026, dari laporan MAGMA Indonesia.